Ibu,Izinkan Aku Menciummu | MagiC MenCari KeajaibaN

klik sini

Ruangan Churp

Tuesday, December 13, 2011

Ibu,Izinkan Aku Menciummu


Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan petang. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.

Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua kerja-kerja rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga pinggan bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya sehingga setiap kali melakukannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu engkau melakukan itu semua. Kerana aku juga akan menjadi seorang isteri dari suamiku, ibu kepada anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, kerana engkau aku menjadi isteri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.




Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang menghantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaan di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai loceng berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, perjalanan. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia memerlukan pertolonganku disaat tubuhnya lemah. Saat aku menjadi dewasa, aku meninggalkannya kerana tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang bergaya. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter di depannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku kelihatan cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa wang belanja bulanannya.

Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajar berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan erat erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeza dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan wang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus yang lain.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelaran sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi doa dalam setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah daripada keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Ketika itulah aku menyedari, ia juga yang pertama kali memberikan kucupan hangatnya ketika aku lahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tangga, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menyoal khabarnya. Aku sangat ingin menjadi isteri yang soleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu.

Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahawa segala kiriman wang-setiap bulan untuknya tak lebih bererti berbanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

“Ya Allah ampunilah aku dan kedua-dua Orangtuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku sewaktu aku masih anak anak” (PaaDuu)

(magic : saya syg ibu saya..anda?)

2 rungutan:

Nuraini An-Nisa' said...

Salam...
Tersentuh saya baca...
Ibu adalah insan yang terbaik yang xkan kita dapat gantinya sampai bila2...
Alhamdulillah dan terima kasih, awak ingatkan kembali saya pada emak saya walaupun agak bz dengan assignment...

Magic said...

tanpa ibu bapa..siapalah kita..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...